Rabu, 20 Oktober 2021
Dunno what to say...
Sabtu, 02 Oktober 2021
Feels Empty...
Minggu, 26 September 2021
Sigh...
Hai, how are you?
Me? I’m not too sure if I’m okay. Kemarin ada zoom reunion teman-teman kuliahku. Aku sudah pasti tidak join. Jangan ditanya lagi kenapa. Dimasukkan dalam grup wa saja aku sudah merasa kurang nyaman. Maka dari itu aku tak pernah berkomentar apa-apa di grup tersebut. Jujur aku merasa minder melihat teman-teman sengkatanku itu. Di usia yang sama mereka semua sudah sukses. Entah di pekerjaan, entah di keluarga, hidup mereka semua tampak mapan. Kalo melihat diriku? Iya, aku punya pekerjaan tetap, tapi kurasa aku tak mencapai apapun yang pantas dibanggakan. Apalagi dalam kehidupan keluarga. Usiaku nyaris 40 tahun tapi untuk menikah pun aku belum jelas. Hanya jadi bahan permainan sedari dulu, padahal aku menjalani setiap hubungan dengan serius. Yah mungkin belum jodoh, belum waktunya, itu yang bisa dikatakan untuk menghibur diri sendiri. Kadang aku berpikir apa aku sejahat seburuk ini jadi manusia hingga sekarang menuai semua hal-hal yang entah bisa dibilang balasan atau apapun itu. Orang pasti akan bilang aku tidak bersyukur, aku hanya melihat keatas, aku tidak melihat orang-orang yang tidak lebih beruntung dari aku, yah…aku mencoba melakukan itu semua, tapi jika yang dipamerkan di depanku adalah hal-hal yang lebih yang tidak aku miliki, aku bisa apa? Aku belajar menutup mata dan telinga, tapi aku manusia, sesekali aku juga tak bisa menahan itu semua.
Hmm…yah mudah-mudahan ini semua hanya kegelisahanku sesaat, mudah-mudahan tidak terus-terusan dan menjadikanku semakin merasa sebagai manusia yang tak ada gunanya…
Well, this is what I feel these days, hoping that I will feel better tomorrow…
See you…
Minggu, 22 Agustus 2021
Mingguku Kali Ini...
Hai, aku datang lagi.
Beberapa hari belakangan ini entah kenapa aku susah tidur. Bisa tidurnya diatas jam 12 malam. Padahal sudah dari jam 9 lampu kamar aku matikan. Kalaupun bisa tidur di sekitar jam 10 nanti pasti akan terbangun di jam 2 dan akan susah tidur lagi, biasanya bertahan hingga jam 4. Dan hasilnya aku baru benar-benar bangun jam 6 lebih. Mungkin ada banyak hal di otakku. Dan hari ini, di Minggu yang cerah dan panas ini, aku memilih mengerjakan pekerjaan kantor, sambil mendengarkan radio online. Yup selalu Geronimo FM Yogyakarta. Tadi sempet melow sih sambil kerja. Rasanya kangen banget dengan Yogya. Satu hal yang ada di otakku jika nama kota Yogya disebut. Yah…PULANG… itu yang terpikir olehku. Aku selalu merasa aku ‘Pulang’ jika ke Yogya. Meskipun bukan disana rumahku, tapi disanalah aku tumbuh. Meski hanya 5,5 tahun aku habiskan disana, tapi itulah waktu dimana aku menjadi lebih dewasa, mengenal banyak orang, mengubah pola pikirku, merasakan kasih sayang, mungkin cinta, persahabatan, memiliki, kehilangan, semua yang mengolah diriku dan menjadi sebagian dari diriku yang sekarang. Aahhh…takkan ada habisnya jika membicarakan perjalanan hidup, hehehehe… Maaf, sepertinya pikiranku terlalu penat.
Sampai sini saja dulu hari ini. Tulisan kali ini tak ada ujung pangkalnya. Tak apalah, paling tidak beberapa jam tak kuhabiskan dengan menangis…
See you…
Background music : all song that Geronimo FM played from 09.30 – 11.27 WITA
Minggu, 08 Agustus 2021
Tentang Meja Belajar
Hai, finally setelah sekian tahun lamanya akhirnya mencoba menulis lagi, meski ga tau bakal nulis apa. Masih tetap percaya ‘Writing is healing’.
Okay then, kali ini ingin menulis tentang apa ya?
Kemarin sih sempet tiba-tiba teringat meja belajar jaman SD gara-gara liat-liat model meja sekarang di saluran belanja online *jiaahhh bahasaku mulai aneh wkwkwkwkwk.
Aku inget waktu itu udah tinggal di Denpasar. Saat dibelikan meja belajar itu entah kelas 3 atau 4 aku lupa pastinya. Kakak perempuanku semata wayang lah yang minta dibelikan meja belajar. Selama ini kami belajar di lantai dengan meja kecil berkaki pendek dan buku berserakan disana sini. Posisi belajar di lantai memang gak nyaman sih, tapi buatku gak masalah, waktu masih di Samarinda pun kami begitu. Jujur aku baru kali itu serasa dapat surprise karena pulang sekolah eh ada dua meja belajar bersebelahan di ruang belajar kami, ruang kecil dekat dapur. Rasanya gimana gitu, kaget dan senang sekali. Sejak itu aku jadi betah duduk berlama-lama di depan meja belajar. Kakak perempuanku? Jangan ditanyalah, dia hanya bertahan beberapa hari duduk tenang di depan meja belajar, lalu kembali dengan posisi leyeh-leyeh di lantai dengan buku-bukunya yang berserakan. Kalau ditanya mamak dia cuma jawab “Meja belajarnya sih sempit, ga muat buku-bukunya kalo pas nulis.”, eeaaaaa keren kan alasannya? Trus ngapain minta beliin meja belajar dah wkwkwkwkwkwk :p
Setelah meja belajar, entah sebulan atau berapa minggu kemudian aku lagi-lagi dapat kejutan. Sebuah tas ransel warna merah-hijau ada diatas meja belajarku. Aku bengong, aku liat di meja belajar kakakku juga ada tas yang sama cuma beda warna, pink-tosca. Ngeliat kebingunganku mamak bilang kakakku minta tas, jadinya aku dibelikan juga, sebagai bentuk pemerataan *halaahhh :p
Aku protes, aku bilang kalo aku ga minta tas. Beneran sumpah saat itu rasanya bete banget aku, kenapa aku dibelikan juga, kan aku gak minta, dan tasku juga masih bagus, belum rusak, masih bisa dipakai. Kalo kakakku minta tas ya udah, belikan aja satu, aku ga usah. Tapi entah kenapa saat itu aku ga bisa mengungkapkan semua pendapatku itu. Aku cuma bisa diem mandangin tas itu. Mungkin mamakku tau ada yang berkecamuk di otakku, dan aku akhirnya hanya bisa jawab “Iya” waktu mamak nanya apa aku ga suka warnanya, kalo ga suka warnanya nanti ditukar ke tokonya. So…yeah…dan begitulah, akhirnya tas itu ditukar dan di tokonya hanya tersisa satu warna, abu-abu, jadilah tasku berganti jadi warna abu-abu. Beberapa hari kemudian aku pakai ke sekolah dan jeng jeeeeengggg tas ransel abu-abu itu sama persis bentuk warna dan merknya dengan yang dipakai anak cowok paling bandel di kelas, hayoooo looohhhh, stress ga hahahahahaha…
Ketawa sendiri jadinya inget itu, tapi satu hal yang aku renungkan *tsaaahhhh…* saat inget kejadian ini, aku ternyata ya begitu. Agak susah menyampaikan yang ada di otakku terutama kepada orang tuaku, terlepas dari saat itu aku baru kelas 3 SD, aku masih berpikir dulu, mungkin abah dan mamak akan kecewa kalo aku mengutarakan pendapatku kalo gak minta tas, mungkin mereka pikir aku tak suka dengan tas itu, secara udah dibelikan. Jadi yah aku iyakan saja dugaan mereka kalo aku hanya ga suka warnanya. Aku senang dibelikan tas hanya saja aku pikir saat itu aku belum begitu memerlukan yang baru, itu saja.
Waahhh seru juga yah nulis cerita nostalgia, mungkin sekilas ga penting, tapi tetep aja ini sebuah cerita yang pernah aku lalui hehehehehehe, apa banget daahh bahasaku, maapkeun yaaa…
By the way…emang bakal ada yang baca ni cerita? Hahahahaha entahlah tapi yang pasti, balik lagi, aku masih percaya kalo ‘Writing is healing’
So…kali ni segini dulu deh ceritanya. Entah besok-besok akan cerita apa lagi.
Bye for now…cheer up Lilimut ^^
Background music : Paul Kim - Rain




